"Ma,kenapa dada key sakit"
" apa dada key tidak apa apa kena bola ma" khan bola karetnya kecil dek..lembek lagi.
"Ma, kenapa perut key Bunyi"
"Ma kenapa tenggorokan key agak tersumbat"
"kenapa telinga key berdenging ma"
KEy mulai menangis. Duh Gusti ada apa dengan anakku?aku dan papa takut http://www.blogger.com/img/blank.gifjuga....segera kami check dan berbagai pertanyaan kami lontarkan.Tapi kami nggak menemukan ada yang salah.Badan key nggak demam, temggorokan key juga nggak merah, key kelihatan sehat saja, nafsu makannya bagus, anaknya ceria. Tapi kenapa dia ngeluh terus ya? Karena saking khawatirnya..pagi pagi sekali kami bawa Key ke rumah sakit kasih ibu. Alhamdulillah nggak sakit apa apa...terus aku cerita sama dokter kalau key suka baca ensiklopedi tubuh manusia...dokter malah ketawa...."Bacaan anak ibu sudah berat..jadi mungkin nalar dengan imajinasinya berbeda" jadi ibu harus jelaskan dengan benar jika dia bertanya, agar dia benar benar mengerti.
Kuperhatikan juga sejak Key bisa naik sepeda....kedua matanya suka berkedip.Padahal dulunya nggak....kucoba browsing di internet ini yang kudapatkan dari
"http://klipingut.wordpress.com"
Anak yang melakukan gerakan tak terkontrol secara berulang dan menetap dalam waktu lama, seperti mata berkedip-kedip cepat, kepala tersentak serta mulut yang bergerak ke depan bisa jadi mengalami gangguan yang disebut “tic”. “INI terjadi karena ada gangguan pada syaraf otaknya, di antaranya pada bagian ganglia basalis otak,” kata dr. Hardiono D Pusponegoro, SpA (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Penyebab pastinya, menurut Hardiono hingga kini belum diketahui namun faktor psikologis diduga kuat berperan sebagai salah satu pemicu munculnya “tic”. Kesimpulan itu diambil karena “tic” sering muncul bersamaan dengan berbagai gangguan psikologis seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan obsesif-kompulsif, depresi, kecemasan, gangguan kepribadian, mengamuk, perilaku menyakiti diri sendiri, kesulitan belajar, gangguan tidur dan lain-lain yang semuanya merupakan gangguan kejiwaan.
Tic umumnya menyerang kumpulan otot kecil, itu sebabnya tic sering terdapat di wajah, seperti kelopak mata, sudut mulut, dan sebagainya. Meski terlihat sepele namun gangguan yang sering mulai muncul pada usia 5-10 tahun itu bisa sangat mengganggu anak dan berpotensi membuat mereka tidak percaya diri. “Sebenarnya anak sadar tapi dia tidak bisa menghentikan atau menahan gerakan itu. Bahkan semakin dia berusaha menghentikan dan menahan, gangguan itu akan semakin menjadi sehingga anak malah menjadi stress,” kata Hardiono.
Lebih lanjut Hardiono menjelaskan dua jenis tic, yakni gangguan “tic” sederhana atau yang disebut “tic simpel”. Gangguan ini biasanya berupa gerakan mengedip, mengangkat bahu, menyentakkan kepala, melirik, mengangkat hidung, menyeringai, mengeluarkan suara tenggorok, berdehem-dehem, menggeram, cegukan dan menjulurkan lidah.
Sedangkan gangguan yang lebih kompleks atau “tic kompleks”, biasanya ditandai dengan bertambahnya frekuensi dan beratnya gerakan disebut “tic kompleks”. Tic kompleks biasanya berupa gerakan menyentuh hidung berulang kali, menciumi benda-benda, kopropraksia (mimik jorok). Penderita “tic kompleks” kadang juga bisa sampai menggerakkan seluruh tubuhnya, melompat-lompat, atau melengkungkan tubuhnya ke belakang.
Pada sebagian anak “tic” disertai dengan batuk (bukan karena penyakit), suara-suara tertentu dan koprolalia yakni dimana anak mengeluarkan makian dengan bahasa kotor dan jorok tanpa bisa menahan. Dokter Hardiono menyarankan agar anak-anak yang mengalami gangguan “tic” segera dibawa ke dokter supaya bisa segera mendapat penanganan dan pengobatan agar tic tidak menghebat atau menetap. “Penanganannya bisa macam-macam, tapi biasanya didahului dengan penanganan masalah psikologisnya dulu. Kalau ringan akan sembuh hanya dengan penanganan psikologis tapi kalau berat harus diberi obat,” katanya.
Namun, ia menjelaskan, dalam hal ini pengobatan tidak menjamin kesembuhan,”Dari semua pasien yang menjalani pengobatan, hanya 50 persen yang sembuh,” katanya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah orangtua perlu menguatkan anak agar anak tidak menjadi minder. Selain itu doronglah anak agar ia bisa menahan kebiasaannya atau dengan mengalihkan perhatian saat anggota tubuhnya mulai bergerak-gerak. (kcm/ant)
Setelah membaca ini aku mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan Key.Mungkin key memendam perasaan yang membuatnya khawatir. Agak susah, Key anaknya introvert, dia suka sekali memendam perasaannya....aku selalu berusaha membuatnya terbuka..akhirnya dia mau juga bercerita kepadaku...kalau dia selalu khawatir...takut jatuh jika naik sepeda> aku berusaha membuatnya nyaman...selalu menssuport memberinya semangat agar Key jangan terlalu khawatir, think positive apapun itu.Alhamdulillah, sekarang key sedikit bisa mengendalikan kedipan itu:)
Aku juga selalu mengajarinya langsung browsing di google..tiap dia ada pertanyaan, Key rasa ingin tahunya begitu kuat.So...jika dia membaca langsung dia percaya apa yang dikhawatirkan itu tidak ada.Ya Allah bantu hamba mendidik anak hamba
0 comments:
Post a Comment