Monday, July 14, 2014

DiarySeorang Sahabat # 20 Tahun Aku Bersabar Menunggu Suamiku Kembali

Berulangkali tante mengirimiku sms. Seorang teman yang kuanggap tanteku sendiri. Karena umurnya 15 tahun diatasku. Kami sama sama bekerja di bidang hospitality. Kadang kami bekerjasama, seringpula temanku yang banyak menggunakan jasanya untuk handle massage bagi tamu-tamu di Villa-villa mereka. 

“Fid, suami tante semalam datang bersama perempuannya, dia meminta kami mengijinkan mereka tinggal bersama kami, jelas sekali tante menolak. Tante tidak mau tinggal serumah dengan perempuan itu, perempuan yang sudah merebut suami dari hati tante. Meninggalkan anak-anak sejak kecil tanpa pernah memberi nafkah lahir dan bathin. Sudah 20 tahun tante bersabar menunggunya menceraikan tante”

“Lalu Dia marah Fid. Dan didengar oleh anak lelaki tante. Lantas anak lelaki tante mengusir ayahnya dan perempuannya itu. Suami tante tidak terima dan langsung memarahi anak tante. Anak tante hilang akal sampai mau mencekik ayahnya. Tante menangis melihat semua itu.Untunglah dilerai banyak orang.”
Wajar kalau sianak marah. Tak ada seorang anakpun yang rela hati ibunya disakiti terus oleh ayahnya. Bathin saya

Saya hanya bisa menyabarkan tante. Karena saya tidak tahu banyak tentang adat bali. 

Tante adalah type wanita tangguh. Jarang sekali saya melihatnya menangis tersedu sedu atau meratapi nasib karena suaminya terpikat dengan wanita dari suku lain. Sampai lupa anak dan istri dan tidak menafkahi mereka selama 20 tahun silam. Dari bisik bisik teman suami tante begitu karena tante begini….sedang kata si Tante si suaminya yang begitu. Entahlah mana yang benar dan salah.
Karena tak dinafkahi selama puluhan tahun, tante yang berjuang sendirian menghidupi kedua anaknya. Karena memiliki kemampuan massage yang bagus. Tante bekerja di sebuah Spa kemudian keluar dan bekerja secara freelance bersama teman-temannya bekerja sama dengan beberapa villa. Sehingga dia bisa handle semuanya, Hubungan saya dan tante lumayan akrab. Kami sering kontak, meskipun saya tak tinggal di Bali lagi.

Anak anak tante sudah besar-besar sekarang. Yang perempuan sudah menikah dan memiliki 2 anak, sedangkan yang lelaki sudah bekerja pula. Karena om sudah lama tidak tinggal bersama tante. Secara otomatis masalah Menyama Braya dan urusan adat turun ke banjar di gantikan oleh anak lelaki tante. 

Saya tidak pernah tahu, kenapa sisuami tidak mau menceraikan tante atau tante yang menuntut cerai sang suami. Saya tidak berani bertanya terlampau jauh, karena adat istiadat yang kami anut amatlah jauh berbeda. Mungkinkah adat istiadat disana yang membuat tante masih bertahan dengan statusnya tergantung selama puluhan tahun.Sehingga tante hanya bisa pasrah menerima nasibnya sebagai seorang istri, Tetap teguh menunggu jawaban suaminya bercerai apa tidak atau ada sebab lain yang hanya tante yang tahu kenapa masih bertahan sampai sekarang…ah entahlah. Hanya tante dan Tuhan yang tahu.

Saya berdoa saja Semoga mereka menemukan pencerahan dan jalan terbaik, apapun itu. 

Note: Sesuai dengan ijin tante, saya menuliskannya di kompasiana.
Untuk lebih jelasnya masalah perkawinan dan perceraian di Bali, bisa di lihat di sini http://sudantra.blogspot.com/2011/09/hukum-perkawinan.html

Baju dan Kue untuk Lebaran Kami

Lebaran tinggal menghitung hari. Dan aku begitu santai belum membeli dan menimbun makanan, kue, minuman ataupun baju lebaran.

Sangat berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya, jauh-jauh hari aku sudah sibuk menyiapkan segala sesuatunya termasuk kue, makanan apa yang akan disajikan, berikut pakaian – pakaian baru. Herannya Anakku juga begitu, tidak ribut meminta baju dan sepatu baru ke papa mamanya. 

“Key, apa nggak pingin beli baju nak”
“Enggak, ma..habis lebaran aja. Sekarang mall rame, Key nggak suka ma”
Sering aku tertawa, kenapa kami sekeluarga tidak menyukai suasana bising, dan rame. Maunya tempat yang tenang. Kepala kami suka pusing bila lama berada ditempat yang rame, yang banyak orangnya .hehhehehe maklum….

Tetanggaku bertanya, sudah punya kue apa aja mbak?
Nggak nyiapin apa-apa mbak, pas hari H saja kubeli.
Emangnya masih ada toko buka mbak
“Ada tuh, indo***
“Ooohhhhhhhhhhhhh”
“Terus mbak mau masak apa?”
“Nggak masak apa – apa mbak,Wong kami mau kerumah ibu di Desa, kumpul sama sodara –sodara disana, Lagian di perumahan sepi, banyak yang mudik”
“Lho kok….terus apa yang mbak siapin untuk menyambut lebaran?
“Angpau untuk anak-anak dan sodara”

Inget lebaran, aku jadi termenung. Entah aku saja yang merasakan atau juga kalian juga merasakan. Bahwasannya lebaran semakin lama kehilangan gregetnya. 

Diam-diam aku merindukan lebaran saat aku kecil dulu, saat tidak ada gadget, saat semua dikerjakan gotong royong. Ibu-ibu jauh-jauh hari sudah sibuk menjemur tepung, dan membuat kue leter, dan ciput. Bapak –bapak pada sibuk mengecat rumahnya, musholla juga diberishkan.meskipun tak punya cat kapurpun jadi. Semua pada bebersih rumah. Supaya rumah kelihatan indah dan bersih saat tamu tamu datang. Ada sumringah di tiap wajah menyambut lebaran. Disaat lebaran semua keluarga berkumpul, reriungan menyantap opor ayam dan ketupat. Sambil bercanda dan bercerita. Anak-anak kecil sibuk menghitung angpau sambil sesekali mengambil makanan dan permen. Sebagian dimasukkan lagi ke sakunya. Lucu sekali

Tidak seperti sekarang semua pada instan. Kue-kue dan sirup tinggal beli, Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing, sibuk melototin gadgetnya, senyum senyum sendiri lihat status temen. Ajang silaturrahim hanya sebatas basa basi. Kue-kue menunggu dimakan tamu, karena kebanyakan tamu jarang mau duduk untuk sekedar mengobrol. Akhirnya habis dimakan sendiri.Si mbah hanya diam membisu melihat cucunya mainin hapenya.
Zaman memang sudah berubah. Dan kenapa aku rindu suasana lebaran dulu?
#catatan sore

Buku Ramadhan D iAnggap Tidak Senonoh

Saya baru pulang belanja dari indo****. Seperti biasa saya mengambil Koran gratisan yang dipajang di meja kasir..hehehhehe senengnya yang gratis gratis euy.

Saya kaget ketika membaca salah satu artikel tentang orangtua yang meminta pihak sekolah menarik buku Ramadhan yang mereka anggap tak senonoh.

Dirumah, saya perlihatkan artikel tersebut kepada Papa dan Key Saya ingin tahu bagaimana pendapat mereka. Wong Key juga memiliki buku tersebut dan kami sebagai orangtua bersikap biasa biasa saja. Dan buktinya saja disekolah key buku itu tidak ditarik. Apa karena orangtua tidak perduli atau memang dianggap bukan masalah seperti keluarga kami.

1405403017404751751
isi dalam buku kegiatan buku ramadhan key


Saya bertanya kepada key, apakah di sekolah teman-temannya membaca ini. Menurut Key di sekolahnya teman-temannya tahu arti kata tersebut, mereka bertanya pada orangtua mereka. Sama seperti kami lebih suka menjelaskan daripada bilang ”hus! Nggak ilok. Bukan waktunya kamu bertanya seperti itu”.

Karena menurut kami, itu bukanlah jawaban. Itu adalah cara ngeles kepada anak, karena dasarnya belum siap untuk menjawab. Apa jadinya bila rasa ingin tahu anak begitu menggebu, dan mereka mencari tahu lewat temannya atau internet tanpa pengawasan. Kemudian coba-coba dan kejadian deh…aih..apa nggak malah ngeri.

Alangkah baiknya sebagai orangtua kita juga harus siap sedia menjawab pertanyaan anak apapun itu. Jangan dikit dikit protes atau malah memarahi anak. Beri mereka penjelasan sebab akibat dan perkuat sisi agamanya. Sehingga iman mereka kuat. Nggak mudah terprovokasi oleh rayuan pingin nyoba.

Inget, anak sekarang makin canggih, mereka lebih pinter dari kita. Dan saya akui itu.jadi sebagai orangtua, ayo jangan malas buat belajar supaya nggak kalah sama anak, supaya nggak gagap bila ditanya anak. Belajar bisa dimana saja asal ada niat.

Monday, July 7, 2014

Diary Seorang Sahabat # Anakku Cacat, Suamiku Tega Menceraikanku


Bayi perempuan cantik itu, tergeletak tak berdaya diatas kasur tipis. Ibunya menangis menceritakan kisah hidupnya padaku, sedangkan anak lelakinya yang berumur empat tahunan asyik bermain mobil mobilan.

“Mbak Fid, apa yang harus kulakukan mbak. Ibu Mertuaku meminta suamiku menceraikanku karena dia tak suka denganku. Berbagai cara dilakukannya sampai mencekoki suami dengan jampi jampi. Sekarang kami sudah dalam proses perceraian. Aku bingung mbak, anakku masih kecil mereka butuh biaya terutama sibayi yang harus ikut terapi dua hari sekali” katanya sesenggukan. Matanya bengkak dan kuyu karena kebanyakan menangis.

Hati saya teriris sedih, meskipun saya mencoba tak ikut larut dalam kesedihan. Tapi toh sampai saat ini. Saya masih nunut mikir. Kasihan anak-anaknya terutama si bayi, meski usianya sudah menginjak 7 bulan. Tapi belum bisa apa apa, badannya lemas. Hanya Matanya dan senyumnya saja yang merekah tiap saya godain. Lantas saya meminta ijin tuk menggendongnya. Bayi itu diam, menatap mata saya. Hati saya jatuh hati. “kasihan kau nduk, sejak engkau lahir, telingamu selalu mendengar pertengakaran orangtuamu, lemparan piring atau gelas dan berganti ganti baby sitter. Tanpa bisa protes.

Sebagai orang luar, bukan hak saya untuk ikut campur. Meskipun dihati ini ingin sekali mendamaikan mereka supaya tak jadi bercerai. Sungguh!wajah sibayi membayangi saya. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberi mereka support supaya kuat menerima ujianNYA dan diberi kesabaran.
Seringkali hubungan menantu perempuan dan ibu mertua tidak berjalan sesuai keinginan. Apalagi bila satu pihak memiliki keinginan untuk mendominasi kehidupan suami. Akhirnya yang ada timbul saling iri, curiga dan tarik menarik. Ibu mertua merasa punya hak untuk mengatur kehidupan anak lelakinya karena beliau sudah melahirkan dan membesarkannya. Sedangkan di pihak istri pinginnya suaminya adalah miliknya yang harus menuruti semua keinginannya. 

Bukan sekali dua kali saya mendengar curhat terntang Ibu mertua, yang turut campur dengan kehidupan perkawinan anaknya sampai masalah income suamipun ingin ngelola. Ada yang legowo, ada yang berani, cuek bebek, banyak pula yang mendem jero. Bagus bila para suami ikut jadi penengah antara istri dan ibu. Supaya tak timbul kecemburuan dan hubungan menjadi tak harmonis. Bila dibiarkan berlarut larut, takutnya seperti api dalam sekam. Lama lama apinya membesar dan membakar semaunya. Perkawinan hancur karena salah satu pihak tak kuat menahan perasaan. Bisa dari pihak suami atau pihak istri. Kasihan anak-anak yang harus jadi korban. 

Tak ada persoalan yang tak dapat diselesaikan, bila kita mampu menahan emosi. Ibu mertua juga manusia yang butuh kasih sayang dan cinta. Berilah mereka cinta bukan hujatan. Saya yakin, bagaimana punbencinya beliau pada kita, lambat laun benci itu akan berubah jadi cinta

Saya berdoa, semoga ibu itu diberi jalan keluar yang indah, Semoga juga suaminya sadar dan ingat anak-anaknya terutama sibayi.

Saturday, July 5, 2014

Malu Malu Tapi Ingin Tahu #Sssttt Ada yang Enak di Sini


Dari banyak obrolan pribadi dengan sesama emak. Topik yang paling hot dan membuat kami tertawa terbahak bahak adalah soal sex. Mulanya malu malu untuk bertanya, setelah dipancing barulah jadi kepo. Mulai soal keputihan,kondom glow in the dark, berjeruji, yang berbulu halus, rasa coklat, strawberry, lingerie seksi, main petak umpet sama anak supaya mereka tidak lihat sampai bagaimana menjaga Ms. V agar harum dan cengkramannya biar kuat. Salah satu tujuannya supaya suami jadi betah dirumah, nggak bocor-bocorin kran kemana mana.

Ada banyak saran, yang saya rangkum disini:
“Minum jamu pinang aja jeng”
“Rajin Ratus aja jeng di salon, sekalian pijat sama luluran”
“Pake tongkat madura”
“Senam kegel dong”
“gurah vagina”
“Bersihkan pake daun sirih
“resik V bagus juga kok”

Okeh. Sebagai seorang wanita, istri dan emak. Saya nggak malu malu dan munafik baca hal keik begituan. Bukan karena saya sex maniak, No! Karena bacaan tersebut bisa menambah pengetahuan dan bermanfaat sekali untuk para istri buat supaya hubungan dengan suami makin lengket kek perangko. Dirumah juga ada buku kamasutra. Hadiah dari seorang teman waktu kita nikah. Meskipun gambarnya relief relief seperti punyaan mas Jati bahasanyapun bahasa inggris. Dan saya lebih suka baca cosmopolitan, karena menurut saya artikelnya lebih menarik, memaparkan bagaimana berhubungan yang baik dan benar supaya menghasilkan kenikmatan. Daripada novel picisan dengan kata katanya yang bikin perut eneg.

Masalah mempratekkan perkara lain, karena lebih ke rasa, sreg dan kenyamanan antara suami istri. Jangan sampai ML akhirnya berubah jadi ilfill dan tragis gegara pingin nyobain posisi baru untuk mendapatkan double” O”. Suami istri harus sepakat, bila hari ini posisi sixtynine berikut doggy style, besok boleh posisi missionaris dan Woman on top, bila pengen berbeda pakelah gaya kupu kupu,gaya macan atau gaya jerapah lagi ngedisco. Gubrak! Ada nggak yo hehehhehhehe

Kenapa harus pake gaya berbeda beda, supaya nggak bosenlah! Masak dari zaman baheula sampai jaman sekarang maunya pake gaya yang gitu gitu doang. Lama lama bosan,terus akhirnya sex hanya untuk sekadarnya, sekedar kewajiban saja, tanpa pernah ada kenikmatan. Horor! Mana enaknya coba. Jangan sampai juga istri pura-pura puas, hanya untuk menyenangkan suami. Jadi, menurut saya variasi itu perlu juga komunikasi supaya tahu dimana G.spotnya masing-masing dan gaya apa yang sesuai.

Y owes gitu aja dulu. Yang penting sex itu indah bila dilakukan dengan pasangan sah dan sudah menikah. Tanpa ketakutan dan keterpaksaan,Tanpa takut hamil atau perasaan kebit kebit karena takut ketahuan.
Happy weekend guys,

Artikel ini juga di published di kompasiana.com/fidiawati

Friday, July 4, 2014

Satu Satu Aku Suka Prabowo, Dua Dua Aku Nyoblos Jokowi

Semalam ada kejadian yang membuatku bĂȘte dan tertawa. Kejadian pertama, ketika suami menerima sebuah gambar berantai dari whatsapp dari seorang kenalannya dan memperlihatkannya kepada saya. Ada dua gambar kartun orang sholat yang lagi melakukan tasyahud akhir. Gambar satu, satu telunjuk dan ada tulisan benar. Gambar satunya dua telunjuk dan tulisannya salah.
14043679541114879543
www.abuyahya8211.wordpress.com
Juederrrrrrrrr!!!!! Saya langsung ilfill. Teman kami islam, napa juga nggak mikir sebelum ngirim. Dan langsung Saya minta suami untuk mendelete dan tak merespon kiriman tersebut. Dalam hati saya hanya bisa membathin. Ya allah! Kejam nian politik, membutakan mata hati. Sampai menghalalkan semua cara. Bukan saja fitnah sampai tata cara sholatpun dibuat ajang untuk memenangkan pilihannya.Hadeh, apa tak ada cara lain yang lebih elegan ya? Toh setelah pilpress, hidup tetep berjalan.
Kejadian kedua, disalah satu satu stasiun TV ada lagu tentang capres sebelah. Lagu topi saya bundar yang di ubah liriknya, saya nggak konsen karena mata tertuju pada buku bacaan. Baru deh setelah Key ngakak. “ma, ini kan lagu topi saya bundar ” Telinga saya langsung ”ON” liriknya kalo nggak salah gini,
Peci saya satu
Satu peci saya
Kalau tidak Satu
Bukan peci saya.
Nah lho!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! akhirnya suami, saya dan key ikutan ketawa. Karena penasaran..saya ubek-ubek youtube. Kali aja ada. Eh….tak ada
Sebagai hiburan saja. Saya juga mau ngubah lirik lagu satu-satu.
Satu satu aku suka prabowo
Dua dua aku nyoblos Jokowi
Ojolali tanggal 9 juli
Mari sama sama coblos nomer dua
Yo wes gitu aja, yang beda nggak boleh sensi euy. Hidup hanya sekali ngapain dibuat ruwet, …kata simbah nggak baik kalo saling gontok-gontokan. Lebih baik damai saja je.
Yuukkkkkkkkkkkkkkkkkk

Tulisan ini dipublished juga di kompasiana.com/fidiawati

Diary Seorang Sahabat : Wanita Lain Suamiku, Adalah Sahabatku

“ Wanita akan disebut tangguh, bila mampu melewati tiap ujian dalam hidupnya”
fidia

Dari sekian banyak curhat temen wanita. Curhat inilah yang membuat saya begitu down, dan marah.Saya ikut menangis, tangan saya bergetar hebat menahan emosi. Mendengar ceritanya saja. Darah saya sudah di ubun ubun. 

Disaat saya menata hati dan mulai nyaman. Herannya ada saja curhat yang membuat saya terhempas dan kembali ke titik nadir. Akhirnya saya harus memotivasi diri saya kembali, supaya senyum saya kembali mengembang. Dan itu tak mudah,ibaratnya gelas saya sudah jernih, dan tiba tiba ada seekor burung, menjatuhkan kotorannya didalam gelas tersebut yang membuat air itu menjadi kotor. Sehingga saya kembali menuangkan air jernih pelan-pelan supaya kotoran tersebut hilang.

Saya tidak tahu, kenapa selalu saja begini, ada saja curhat tentang sesuatu yang saya ingin lupakan. Mungkinkah semua ini caraNYA, supaya saya belajar dan mensyukuri hidup, karena diluar sana masih banyak sekali perempuan – perempuan yang hidupnya masih terbelenggu oleh kesakitan baik fisik maupun psikis.

Berkali-kali saya berjumpa dengan ibu itu dalam sebuah kesempatan. Kami tak banyak bicara, hanya saja saya perhatikan mata itu seperti menyembunyikan suatu kesedihan dan kemarahan. Dan akhirnya dia datang kerumah dan berceritalah tentang perkawinannya. Dia tak menyangka ternyata selama ini, sahabat karib yang sudah dianggap saudara tega menusuknya dari belakang. Sahabatnya telah menjadi duri dalam daging. Sama sama sudah memiliki keluarga dan anak. Namun dengan lihainya masih bernafsu untuk merebut suaminya. Rela menjadi WIL suaminya. 

“Kurang apa aku mbak fid, aku sudah kerja keras membantunya kerja, semua keinginannya juga kuturuti. Karena gajiku lebih besar. Tiap idhul fitri kakinya selalu kubasuh dan kuminum airnya mbak, sebagai tanda baktiku padanya. Tidak cukupkah dia selalu menyakiti hatiku mbak” tangisnya.

Betapa Dia sangat shock ketika suatu malam, sepulangnya bekerja. Rumah sedang sepi, anak anaknya sedang menginap dirumah saudaranya dan jantungnya serasa berhenti berdetak takkala melihat suaminya sedang asyik masyuk menikmati lekuk tubuh sahabatnya ditempat tidur mereka. Hati siapa yang tak terbakar cemburu dan gelap mata, bila melihat belahan jiwanya melakukan perbuatan tak senonoh semacam itu. Hanya tempat tidurnya yang dia bakar sebagai pelampiasan sakit hatinya. “Jijik aku mbak, tidur di tempat tidur yang pernah mereka pakai begituan” katanya dengan badan yang gemetar menahan emosi.

Ada Kalanya dia bercerita seperti ada bisikan ingin melakukan tindakan bunuh diri dan membunuh suami dan selingkuhannya itu.

“Mbak Fid,kemaren aku pergi kesuatu tempat. Pinginnya aku terjun bebas mbak. Namun aku tersadar setelah inget wajah kedua anakku.”
Saya hanya terdiam, mencoba memahami perasaannya. Saya juga memaklumi akhirnya dia menyepi untuk menenangkan perasaannya apakah akan menuntut cerai atau memaafkan suaminya. Saya juga tak akan menyalahkannya bila dia menuntut cerai,karena ini sudah perselingkuhan yang kesekian kalinya. 

Untuk apa juga terus memaafkan bila suaminya tak jua jera. Sabar boleh saja, tapi kalau kebangetan ya sudah diakhiri saja. Jangan mau di injak injak terus. Toh hidup hanya sekali bukan? Hidup butuh bahagia, bukan untuk meratap.

Setelah curhat itu,lama kami tak bertemu dan sore itu sebuah undangan tergeletak di meja. Undangan dari si ibu, “ syukuran Re married” saya terkejut. Pikiran saya berkecamuk, terbuat dari apakah hati si ibu ini? Berkali kali dikhianati masih mau menerima suaminya.Apalagi sahabatnya seperti tak berdosa melakukan hubungan itu. Rumah mereka juga bersebelahan. Sekuat kuatnya tebing bila ditempelin air tiap hari akan runtuh juga. “ Saya ingin menjadi istri sholehah mbak Fid, kasihan anak anak, mereka depresi karena masalah kami, mereka butuh figur seorang ayah,saya tak bisa mbak, biarlah saya menanggung derita” Ya Allah, haruskah menjadi seorang istri sholehah itu jalannya begitu berliku dan penuh airmata. Saya membathin.

Jujur hati saya tak terima dengan jawabannya. Sekali khianat, bisa dimaafkan. Namun bila berkali kali khianat kemudian dimaafkan akan sulit saya terima. Butuh waktu yang lumayan untuk menyembuhkan hati yang luka dan kembali percaya lagi. Hati bukan seperti komputer yang tinggal di delete atau dibersihkan dengan smadav bila terkena virus.
Lagi lagi, saya terdiam, tak mampu berkata kata lagi. Ibu itu sudah memilih, dan bukan hak saya lagi untuk merubahnya. 

Semoga saja perkawinan mereka langgeng dan suaminya benar benar insyaf.

Tulisan ini juga di published di kompasiana.com/fidiawati

Monday, June 30, 2014

Membuat Kalung Dari Kaos Usang # DiBuang Sayang

Liburan kali ini, kita tidak pergi kemana-mana. Diam dirumah saja, apalagi cuaca sangat panas, bertambah malaslah untuk keluar, takut item!
Saya jadi berpikir bagaimana merencanakan aktivititas yang menyenangkan buat Key untuk menghabiskan waktu liburannya supaya dia tidak bosan hanya menonton film kartun diTV saja, bermain game seharian atau ngerjain Bobo dan Pussi, Gludak!
Setelah beberapa kali mengajaknya mencoba resep baru yang saya browse dari internet. Kali ini, saya mengajak Key mendaur ulang kaos usang menjadi kalung. Apalagi dirumah ada beberapa kaos yang sudah jelek, daripada dibuang atau di buat lap motor, lebih baik merubahnya menjadi sesuatu yang cantik. Dengan bahan bahan yang murah meriah seperti:
  • kaos bekas

  • gunting

  • benang

  • jarum
Misinya supaya Key menjadi seorang wanita yang smart plus kreatif nantinya. Tak pandai menjahit bukan alasan untuk kita mencoba sesuatu yang baru, asalkan ada niat. Jalan itu selalu ada.
Hadeh,karena sayapun begitu. Bondo saya Cuma satu, nekad! Nyoba saja, nggak banyak mikir, perkara jadi Alhamdulillah, nggak jadi..ya sudah..anggap belajar.
Okeh, kalungnya sudah jadi, kami senang. Hmmm bagus juga ternyata. Besok buat apa lagi yach……

14041831541356131152
kaos usang/pri
14041832201597429060
kaos yang sudah di potong-potong. doc pri
1404183310779710315
step membuat bunga dari kaos, jahit jelujur kemudian ujungnya kita ikat
1404183417935248881
bunga dari kaos, doc pri







14041834811246285999

Friday, June 27, 2014

Tips Keuangan Menghadapi Tahun Ajaran Baru #Ala Emak-Emak

Emak mana yang nggak bahagia melihat nilai raport anaknya bagus. Tak usahlah rangking, nggak ada nilai merahpun sudah cukup membuat mereka bahagia. Senyum bakalan terus mengembang dibibirnya. Namun dibalik senyum itu timbul rasa prihatin akan biaya pendidikan yang kian mahal dari tahun ke tahun.

Apalagi kalau anaknya lebih dari satu. Ada yang masuk TK/ SD/SMP/SMA/Kuliah. Berapa banyak biaya yang akan mereka perlukan? Buat beli buku, uang gedung,daftar ulang, seragam, sepatu dll. Apalagi Tahun ajaran baru kali ini berdekatan dengan Idul Fitri. Cukup membuat banyak emak – emak ekonomi kelas menengah kebawah pusing tujuh keliling bagaimana supaya keuangan berjalan baik.

Ajaran baru selalu membawa kisah tersendiri. Ada orangtua yang sudah siap secara financial banyak juga yang tidak siap. Karena keterbatasan ekonomi atau memang belum mempersiapkan dana sekolah karena terbentur dengan banyaknya tuntutan dan cicilan seperti cicilan rumah, motor dll. Mereka harus putar otak supaya bisa membayar uang sekolah dan cicilan. Ada orangtua yang bersusah payah untuk menyekolahkan anak-anaknya. Baik itu menjual atau menyekolahkan perhiasan, sawah, kebon, motor atau barang berharga lainnya. Semua mereka lakukan demi anak. Ada anak yang mengerti, mereka belajar dengan giat sebagai bentuk terimakasih kepada orangtua. Sayangnya, banyak anak yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan oleh orangtua mereka. Bisanya cuma minta dan minta. Hhhhhhhhhhhhh

Dari banyak percakapan dengan para emak yang sudah siap secara finansial. Secara tidak langsung saya banyak menyerap ilmu dari mereka, terutama dalam mengolah keuangan. Walaupun mereka tidak ikut asuransi, mereka bisa. caranya simple, sederhana dan efektif, saya menyebutnya 3M. Yup, Mereka Rajin Menabung,menabung dan menabung. Selain menyiapkan pos pos pengeluaran. Mereka juga menyiapkan dana darurat yang bisa dipakai apa saja. 

Misalnya dengan menyisihkan 5 -10% pendapatan, bisa juga menabung sisa belanja sehari hari, sekalipun itu uang receh kembalian dari warung atau supermarket. Namun bila dikumpulkan, lama lama banyak juga. Yang lebih keren sih, mereka tak malu untuk menambah income suami dengan bekerja sambilan, sambil mengurus rumah tangga.
Intinya, menabung secara konsisten. Nggak usah muluk muluk dulu bisa menabung ratusan ribu. Cukup 1000 atau 2000 sehari bila konsisten..lama lama banyak.
Hayo mak…nabung kalo bukan sekarang kapan lagi…sekalian ajakin anak-anak kita supaya bisa menyisihkan uang bekalnya di sekolah. Buat kompetisi siapa banyak akan dapat reward.

Artikel ini juga di published di kompasiana.com/fidiawati

Wednesday, June 25, 2014

Trik Menutupi Baju Robek # Dibuang Sayang

Melihat baju kesayangan sobek, hati ini rada sedih. Apalagi bila kainnya nyaman banget, adem dan pas dibadan, kita pede dan merasa lebih cantik bila memakainya. Beuh..bakalan sayang banget bila baju itu harus turun dari lemari.
1403684911930177930
foto punya dewe

Seperti salah satu cardigan hitam favorit saya. Saya suka memakainya karena bahannya nyaman. Dan saya terkejut ketika ada sobekan kecil dibagian bawah.Bila tak dijahit, bakalan tambah lebar robeknya. Seperti menemukan teka teki,saya harus bisa memecahkannya. Otak saya langsung berpikir. Apa yang harus saya lakukan dengan sobekan ini, apakah hanya dijahit saja atau diberi sesuatu supaya lebih kelihatan menarik.
Kemudian keluarlah sebuah ide, kenapa pula tak diberi hiasan kain flanel, sepertinya cantik. Otak saya sudah membayangkannya. Tanpa ba bi bu lagi saya mulai bergerak mengambil gunting, kain flanel, jarum dan benang. Langsung bekerja kres… kres… kres meskipun saya belum pandai menjahit. Kenapa tak dicoba dulu,sebagai ajang experiment. Toh hasilnya buat saya sendiri.
Dan voila….cardigan saya lebih cantik. Sobekan tertutup sempurna oleh kain flanel.
14036849761022413094
photo punya dewe

artikel ini juga di published di kompasiana.com/fidiawati